Kamis, 03 Mei 2012

"r.a.s.a"

 cipt : :fifi rahimayanti

Setiap manusia mempunyai rasa..
Perasaan yang mendalam yang ada didalam hatinya.
Rasa yang ada dalam jiwanya.

Apakah arti rasa yang sebenarnya..
Apa rasa itu arti dari suka ?
Apa suka itu, arti dari rasa ?
Aku tak mengerti.
Aku masih belajar apa itu arti dari rasa..

2 nama. Dan 2 sifat yang berbeda..
2 nama dan 2 arti yang berbeda..
2 nama 2 inspirasi yang berbeda..

Aku disini, masih berpikir.
Apakah rasa itu.

Aku bingung dan aku takut.

Aku takut dengan cinta.
Aku takut dengan waktu.
Aku takut dengan apa yang terjadi.
Aku takut.

Aku takut dy meninggalkanku.
Aku takut. Dibuang seperti sampah begitu saja.
Dan aku takut,

Aku hanya manusia yang buta, tentang apa arti cinta.
Aku hanya manusia yang polos, tentang apa arti cinta.
Aku tak mengerti.
Dan aku
Aku masih takut dengan cinta. Aku takut.
Yang ku tau,
cinta itu dimulai dari rasa.
Dan jatuh kedalam hati.

Tapi, yang ku tau cinta itu, bisa
hilang begitu saja.

Aku meyakini dalam hati..
Bahwa rasa cinta adalah.
Pengorbanan yang tulus. Dan menerima apa adanya dngan apa yang ada.
Mencintai kelebihannya. Dan mencintai kekurangannya.
Menjaganya dengan tulus. Bukan hanya sekedar mncintai fisiknya. Itu arti dari cinta yang sebenarnya..
Tapi, apa ada orang seperti itu,


entahlah. Aku bingung dengan apa arti dari rasa yang sesungguhnya.
Jagalah aku. Hargai aku. Bukan cintai aku :').

"kenyataan"

 cipt : fifi rahimayanti

Terpendam,sedih,ingat,rindu bercampur tangis..
Satu paket didalam rasa yang ada didalam jiwa ini :')..

mungkin aku mendambanya :')..

Mendamba seorang yang aku kagumi sejak itu.

seorang yang membuatku bahagia saat melihatnya. Seorang yang selalu membuatku ber'inspirasi didalam khayalku. Seorang penyemangat didalam hidupku.

Itulah dy yang aku kagumi :').

Aku hanya manusia lemah, sangat" lemah..
Aku punya dua mata..
Tapi sayang, mataku tak berguna :'.
Kenyataan adalah mimpi buruk yang pahit

iia imajinasiku, tapi sayang tlah pergi :'(.

Aku salah.
Dan kenyataan pada mataku. Yaitu buram.
Buram tak terlihat pada pandangan.
Buram, tak terlihat dari kejauhan. Dan Buram, tak terlihat, ketika iia senyum.

Rasa kagum rasa cinta, rasa sayang, rasa suka itu beda.
Sangat" beda.

Orang yangku kagumi. Saat melihatnya terasa bahagia. Kagum dengan apa yang ada didalam dirinya. Baik sifatnya. Cara bicaranya. Itu yang membuatku kagum :').

Tapi rasa cinta itu jg beda. Rasa cinta adalah. Rasa yang tulus mencintainya. Menerima apa adanya. Saling terbuka masalah. Dan saling mengerti, satu sama lain. Tapi sayang, Aku bukan tipe orang yang pengertian :').

Sekarang aku kehilangan imajinasiku. Pengagumku.

Dan mulai saat itu,
aku hanya bisa berharap. Berharap untuk kembali lagi, kembali seperti awal . Disaatku bahagia melihatnya. Hingga aku kagum.

Jika tak kembali, aku hanya bisa berharap. Kejadian saat aku bahagia melihatnya. Dy yang menyemangatiku itu ter'ulang. Berharap :'.

Minggu, 08 April 2012

''permintaan sebuah diary''

Hari yang melelahkan dengan teriknya matahari dan sapuan udara bercampur debu. Daun-daun berguguran lalu terbang tersapu angin. Terlihat sesosok gadis kecil duduk termenung di kursi taman pusat kota. Terdengar teriakan seseorang dari arah belakang gadis itu.
“Dilla…!” Teriakan itu membuat gadis kecil yang ternyata bernama Dilla itu terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya.
“Dilla..!!” teriak orang itu lagi. Setelah dia melihat orang yang memanggilnya itu, mukanya tiba-tiba memerah dan sepertinya ada rasa geram darinya.
“Dilla, kamu ke mana saja, Nak? Ayah mencarimu dari tadi pagi. Kenapa tiba-tiba kamu kabur?” Tanya orang itu yang ternyata adalah ayah Dilla sendiri. Dilla tetap diam. Wajahnya tetap murung dengan sedikit tatapan sinis. Ayahnya mencoba bicara lagi.
“Ayolah, Nak. Beritahu Ayah. Kamu mau apa?” Sang ayah terus membujuknya untuk bicara. Perlahan wajah Dilla mulai kelihatan tenang. Dan ia pun mulai bicara.
“Ayah nggak akan pernah tau apa yang kuinginkan, karena Ayah nggak pernah perhatiin aku. Ayah nggak akan pernah mengerti dan sampai kapanpun Ayah takakan bisa mewujudkannya!” ucap Dilla.

Ia mengatakan semua yang ada di benaknya. Perasaan yang dulu ia pendam. Dan sekarang perasaan itu sudah memuncak dan tak dapat dikendalikan lagi.
Ayah merengut dan tiba-tiba memarahi Dilla.
“Apa sih yang kamu mau? Ayah sudah memberikan semua yang kamu minta. Pakaian, handphone, laptop, accessories dan barang-barang lainnya yang Ayah rasa kamu tidak gunakan. Sekarang kamu mau apa? Ayah capek… capek… ngeladenin kamu!”
Mendengar ucapan ayahnya, sakit hati Dilla semakin menjadi-jadi. Perlahan air matanya keluar. Tetes demi tetes menggambarkan kehidupannya yang kelam.
“Kalau Ayah memang tak mau ngurusin aku, mendingan Ayah buang saja aku. Biar Ayah nggak capek lagi dan bisa senang-senang dengan kehidupan Ayah yang nggak jelas itu!” Semuanya ia ungkapkan saat itu juga dan akhirnya ia lari pergi meninggalkan Ayahnya.
“Dilla…!!” teriak ayahnya yang lari mengejarnya.
Larian panjangnya tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah kecil yang tak layak huni. Langkah kakinya bagaikan tersedot rumah itu. Ia mencoba mengetuk pintu rumah itu.Namun tak ada orang yang membukakannya. Ia terus mengetuk pintu itu berkali-kali. Namun tetap tak ada jawaban.
 Akhirnya ia mencoba membuka pintu itu. Pintunya tidak dikunci. Ketika ia melihat ke dalam rumah itu, betapa terkejutnya ia. Ia melihat seorang wanita tergeletak tak sadarkan diri dari  balik dinding rumah itu.
“Bunda…Bunda…!!” teriaknya dengan air mata yang terus menetes.
“Bunda..!Bangun Bunda..! Bangun…” Dilla mencoba menyadarkan wanita yang ternyata ibunya. Ibunya Dilla tetap tidak sadarkan diri. Dilla pun mulai putus asa. Ingin rasanya ia membawa ibunya ke rumah sakit. Namun, ia tidak bisa membawa ibunya sendirian. Dan walaupun ia lakukan itu, yang pasti ibunya akan marah dengannya. Akhirnya, ia merawat ibunya di rumah itu, hingga ibunya sembuh.
^_^
Sudah dua hari Dilla menginap di rumah itu. Namun ayahnya tak kunjung menjemputnya. Ada dua alasan yang mungkin terjadi dengan ayahnya hingga ayahnya tidak bisa menjemputnya. Yaitu, satu; karena ayahnya tidak tau rumah ini. Dua; karena ayahnya sibuk dengan pekerjaannya.

Di rumah kecil itu, Dilla lebih merasa ceria. Karena ia merasa tidak kesepian. Di rumah itu, ia mempunyai teman ngobrol, mencurahkan isi hatinya, berbagi suka dan duka, tertawa bersama dan hal-hal menarik lainnya. Ketimbang di rumah besar yang sunyi, sepi, senyap, hanya bertemankan harta yang tidak berguna.

Ibu Dilla sudah sembuh. Dilla pun berpamitan dengan ibunya. Ia takut ayahnya akan marah besar kalau ia tak kunjung pulang. Ia merasa tersiksa dengan perceraian kedua orang tuanya yang berakibat buruk terhadap masa depannya.

Sesampainya di rumah, Dilla langsung masuk ke kamarnya, menguncinya, dan seperti biasa, ia mencurahkan isi hatinya dalam buku harian.

Malam harinya, ayah Dilla pun pulang. Ia langsung menuju kamar Dilla untuk memastikan anaknya itu sudah pulang atau tidak.
Ketika pintu kamar Dilla dibuka, Dilla pun spontan terkejut, ia langsung menyembunyikan buku hariannya.
“Dilla.. Kamu sudah pulang, Nak. Kamu ke mana aja kemarin? Kenapa nggak bilang sama Ayah?” sang Ayah mencoba menginterrogasi Dilla.
“Nginep rumah teman, Yah.” Jawab Dilla singkat.
“Kenapa kamu nginep rumah teman? Emangnya kamu nggak punya rumah?” Tanya ayah dengan nada pelan.
“Ayah! Aku kesepian di rumah ini. Aku tidak merasa bahagia dengan semua harta yang Ayah berikan. Aku cuma minta perhatian dan kasih sayang kedua orang tuaku. Dan kalian selaluu ada di sampingku. Tapi Ayah tidak pernah mengerti apa maksudku!” bentak Dilla. Emosinya memuncak drastis.
 “Terus apa maumu?! Bagaimana Ayah bisa tahu, kalau kamu nggak ngasih tahu Ayah!!” bentak ayah dengan nada tinggi.
Ucapan ayahnya membuat Dilla merasakan sakit yang luar biasa. Sekarang bukan hatinya saja yang sakit, seluruh tubuhnya juga ikut sakit. Dilla merintih kesakitan dan akhirnya pingsan.
Melihat sang anak pingsan, sang ayah langsung membawa Dilla ke rumah sakit. Dan langsung ditangani oleh dokter terhandal.
Sesaat kemudian, dokter keluar dengan wajahnya yang kelihatan pucat. Ayah Dilla pun menghampirinya.
“Penyakitnya kambuh lagi.” Ucap dokter itu.
“Penyakit??” Tanya Ayah Dilla heran.
“Penyakit leukimianya sudah stadium empat!” Lanjut dokter.
Seketika itu pun ayah Dilla terkejut.
Penyakit leukemia? Stadium empat? Batinnya.
“Maaf, Dok. Setahu saya, anak saya tidak pernah mengidap penyakit leukemia. Apalagi sampai stadium empat. Saya tidak mengerti maksud Anda!” Ucap Ayah Dilla.
“Bapak jangan bercanda. Dilla itu pasien lama saya. Sudah 2 tahun ia saya tangani. Kok Bapak sampai tidak tau masalah ini?” Jelas dokter dengan wajah bingung.
Ayah Dilla semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan dokter tersebut.
Sudah 2 tahun? Tapi mengapa Dilla tidak pernah mengatakannya? Batinnya lagi.
“Dok, boleh saya masuk ke dalam? Saya mau jenguk anak saya!” Pinta ayah Dilla sambil mengarahkan telunjuknya ke kamar tempat anak semata wayangnya itu dirawat.

Di dalam kamar itu, ia melihat seorang gadis kecil mempertaruhkan nyawanya melawan sakit yang menderanya. Dimanakah sosok seorang ayah yang dia punya? Mengapa ia tak tau apa yang terjadi dengan anaknya? Apakah batin seorang ayah dengan anaknya tidak terikat? Ditengah lamunannya, ia dibuyarkan oleh secercah suara kecil. Ya, suara Dilla.
“Ayah..” ucapnya lemah.
“Iya, Nak.” Ujar ayahnya sambil meneteskan air mata.
“Ayah.. Aku mau minta sesuatu dari ayah. Aku mau…” Ucapan Dilla semakin lemah. Denyut nadinya semakin cepat. Nafasnya terengah-engah. Dan pada saat itu, detik itu, Dilla menghembuskan nafas terakhirnya sebelum mengatakan keinginannya itu.
Tangisan langsung meluap dari kedua mata sang ayah. Sampai akhir hayat anaknya, ia tidak dapat mengabulkan permintaan anaknya itu.
 Dan sekarang ia tidak tau harus bagaimana. Ia tidak tau apa yang anaknya inginkan. Dan ia tidak tau bagaimana mewujudkannya.
^_^
Dua hari setelah kepergian Dilla, sang ayah terus saja berdiam diri di rumah. Ia sekarang sadar, harta yang paling berharga baginya bukanlah uang tetapi keluarga. Ia pun mencoba mengenang Dilla dengan masuk ke dalam kamar Dilla. Ia membereskan kamar anaknya itu. Ketika ia sedang membereskan tempat tidur, tak sengaja ia menemukan sebuah diary di bawah bantal. Ia pun kemudian membuka diary itu, dan membacanya.

Deardiary…
Aku tak tau apa yang sedang ku alami
Semuanya berubah begitu saja.Perceraian Ayah dan Bunda telah membuatku    
larut dalam kegelapan
Aku tak bisa melihat masa depanku nanti.
Sekarang aku mencoba menahan penyakit leukemiaku. Aku tidak ingin mereka 
mengetahuinya. Aku tidak ingin kedua orang tuaku saling menyalahkan.
Cukup aku yang merasakan sakit ini.

Deardiary…
Ya Allah…
Kenapa Kau berikan cobaan ini kepadaku?
Kenapa Kau memberikan sakit ke Bundaku?
Kenapa Kau buat Ayah melupakanku?
Kenapa aku tidak pernah bisa menjadi orang yang lebih sabar lagi menahan
cobaan ini.
Ya Allah..
Yang hambaMu inginkan cuma satu. Tolong persatukan keluarga kami lagi.
Tolong satukan Ayah dan Bunda agar Ayah bisa merawat Bunda.
Karena mungkin hamba tidak bisa merawat Bunda lagi.
Karena mungkin Kau akan memanggil hamba.
 Jadi hamba mohon, persatukan keluarga hamba.
Ayah… yang Dilla minta selama ini adalah itu.
Dilla minta Ayah menjemput ibu di rumah kecil di bawah jembatan tua.
Dan Dilla ingin Ayah menjaga dan merawat Bunda untuk selamanya. Hingga
akhir hayat.
Amiiinn… Ya Rabbal A’lamin.

Tetesan air mata berjatuhan. Isak tangis meluap. Sekarang.. saat itu juga ayah Dilla pergi menjemput mantan istrinya itu sesuai kehendak Dilla.

Di rumah kecil itu, ia melihat mantan istrinya duduk termenung. Ia pun mendekatinya dan perlahan mengatakan tentang kepergian Dilla.

Mendengar berita itu, sang ibu langsung menangis. Ia tak dapat menerima semua itu. Namun, ia pun tidak bisa mengelak takdir illahi. Sesuai keinginan Dilla, kedua orangtuanya pun bersatu kembali.

Cerpen Sedih


10 out of
10

based on
100 ratings.


Jumat, 16 Maret 2012


Masa-masa suasana UTS

Gue pada pertama masuk kelas, gue kira gak enak sekelas sama anak’’ TL cz, denger’’ isu’’nya kalo anak’’ TL alay’’ and bandel, makanya pas w denger isu begitu, gue rada’’ ilfil ..
Eh ternyata pas gue sebangku sama anak TL. pas hari pertama gue kira, anaknya gg enak.and tukang ngadu. kan gue, bawa kebetan noh, takutnya dia ngadu ke guru. eh ternyata, dy jga tukang ngebet geblek hhhahaha..

Pas hari ke dua dan seterusnya, ternyata anaknya asik lho, diajakin kerja sama.. tapi dia anaknya rada’’ oon, hhaha.. nah, tapi dy jga bawa kebetan, and nyontek dari depan temennya..
Apalagi pas ulangan ipa tuch, gue kan ngebet, tapi gak gue liat kebetan gue, geblek ya hhaha.. cz w gg berani, soalnya diawasin sama butom. Yaudah mumpung kertas ulangan gue sama anak TL itu sama, yaudah kerja sama hhha, tentram banget men ckckk.. sampe diktein jawaban dari dia, wkkwkwkakak, tentram bner dah haha.. moga aja hasilnya memuaskan gg malu’’in amien ckckk..

Sebelah gue, berisik banget, paling berisik malah hha, ngegodain ibu modus mulu, hahha.. enak 
banget diajarin sama bu modus tentram hhaha.. udah gurunya mesem’’ mulu, baik si hahaha..
Masa dia bilang gini, sama gue. udah si, buka aja kebetannya slow sama ibu modusmah biarin gue yang tanggung preeeettt haha..

gue ulangan ketawa’’ mulu, kocak banget sumpah dah.. sampe gg berhenti ngakak ckckck..
Pas ulangan kkpi noh, gue juga kerja sama.. tapi dia mah kagak mikir, Cuma ngambil contekan orang doank pinternya hha.. tapi gue juga dikasi tau si, sama depannya temennya sebangku gue, dia juga baek wkwkkwwkkwk.. yang bikin gue ngakak kan gue nyuruh temen sebangku gue nanya kedepan temennya, eh malah gue minta diambilin tip-ex , kan oon.. gue nyuruh apa, dia ngomong apa hhahaha..

Eh pas ulangan ips, gue ketawa mulu..  pokoknya tiada hari tanpa ketawa, gue sebangku sama itu orang wkwkwkwwkwkakak.. dia nanya ke gue ..
dia   : " penemu rempah" siapa ??
gue  : "  nah mana gue tau, kata gue. wkwkwkkakak..

dia ngeliat ulangan gue yang duduk didepannya jga .. 
katanya temen sebangku gue,

dia   :  " lu bukannya udah selesai ??
gue  :  " iyya si, udah. tapi mau gue perbanyak lagi biar nilainya bagus ..
ojan :  " gue mah kalo begitu, udah gue kumpulin hha.. 
dia   :  " tulisannya bagus" amir, ngapain bagus" buat ulangan doank.
gue  :  " gue diem aja, (dalem kata hati gue) yaialah gue, harus bagus donk tulisannya. Namanya juga sekretaris ckckkc..

kata dia, temen sebangku gue . dia nanya lagi''..
dia   : " emang lo yang blum yang mana si  ??
gue  : " yang faktor kelangkaan, lo tau gak apaan.??
dia   : " ohh itu, jawabannya fosil kan, ??
gue  : " hah fosil kata gue, gak salah, itu mah pelajaran sejarah. Bukan kali, yang gue tanya pelajaran ekonomi,
dia   : "ohh iyya hemptt, gue tau apaan jawabannya..
gue  : emang apaan ??
dia   : " itu tuh langka. Kawin diusia muda. Kan langka tuh, lu tulis aja.
gue  : " peak lo.. masa gue tulis begitu, ada’’ aja lu, 
dia   : " lah bener kan, emang langka, lu tanya aja depan gue, ya kan, jan ??
ojan : " iyya bener, lu tulis aja. cepetan, keburu, gak selesai noh tinggal nulis itu doank.
gue  : " ah sesat lo, bedua -,- ..

 yaudah gue ngasal aja. make feeling gue. tapi gak ngasal’’ banget. hahhaa.. geblek ya, mereka ckckkck..
Dan akhirnya anak tpl pulang dia gg ada uts plh, yaudah gue sendiri dech, gg ada temen sebangkunya. Tapi, pas pelajaran plh, gurunya enak lho, gue diajarin sama bu modus ckckck. Boleh nyontek and boleh ngebet lagi hahha keren kan keren ckckck, coba guru dari awal kayak gitu, tentram gue hha..
Udah begitu doank cerita gue masa’’ uts tadi.. dan gue libur seminggu dech acikkk ckckck :D..
fifi rahimayanti 




Rabu, 07 Maret 2012

mata senyuman cintaku

 ada mata yang tak bisa kutatap
ada senyum yang tak bisa kubalas
ada perasaan yang muncul di dalam hati
dan hari itu aku putuskan
kuingin menatap mata itu lagi
kuingin membalas senyum kecilnya
dan perasaan ini pun jauh semakin dalam
kutemukan kau di lain hari
kutatap indah matamu
kubalas senyuman itu
kusampaikan isi hatiku
aku jatuh cinta denganmu

'' help me :'( ''

Ya allah, ya rohman, ya rohim, ya malik, ya kudus, ya salam, ya mukmin, ya muhaimin. Tolong aku ya allah :'(.
Hambamu ini sedang bnyak pikiran, dalam memikirkan ujian tengah semester besok..
Tenangkan hambamu ini ya allah, berikan ktenangan dalam mengerjakan, soal uts hari senin depan ya allah.
Saya teramat takut, sangat takut. Takut nilai hambamu ini jelek, atau kurang.
Saya gak mau, orang tua saya kecewa, melihat nilai saya jelek. Tolong hambamu ini ya allah, cerdaskanlah aku, ya allah tolong, mav jika hambamu ini banyak dosa. Banyak bnget pikiran diotak saya, tentang pelajaran ya allah..
Senin depan, saya masuk siang, pulang sore, kapan selesai belajarnya ya allah, segitu bnyaknya pelajaran yang akan diuji, ya allah engkau yg maha pengasih lg maha pnyayang, berikan aku kemudahan, dalam mengerjakan soal uts ya allah. Hambamu duduk didepan, tolong aku ya allah, bismillah hirrahmannirahim..