Jumat, 12 Agustus 2011

''cinta yang terbenam''

Letizia, gadis manis yang setahun lagi akan memasuki kepala 3 dalam perjalanan hidupnya saat ini sudah ada di depanku. Duduk menatap tajam ke arahku. Dingin.
Jemarinya saling bertautan, sesekali memainkan kukunya yang berwarna peach senada dengan warna perona bibirnya yang tipis. Cantik tapi pucat, sama seperti kulitnya yang bersih namun bagiku seperti layu tak terkena sinar matahari selama beberapa waktu. Akupun menatapnya. Dalam. Tetap diam. Sesekali desah panjang terdengar di kupingku. Mungkin Letizia juga mendengar milikku. Ah… sampai kapan kau bungkam, Letizia.

Cappucino di hadapanku sudah hampir habis. Letizia belum juga mencicipi Orange Juice yang dipesannya sejam lalu. Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan.

“Zia, bisakah kita mulai?” tanganku memegang tangan kanan Letizia, ingin menggenggamnya erat.

Poni Letizia semakin menutupi wajahnya saat ia menundukkan kepalanya. Letizia menggeleng lembut.

Kutarik lagi tanganku.

“Oke, kalau kamu siap, akupun siap mendengarkan” ujarku sambil menyeruput Cappucino favoritku yang hampir dingin hingga tak bersisa.

“ mungkin semua jadi sia-sia ” suara lembutnya mengagetkan aku

“ ada apa?”

“ inilah kenapa aku memilih untuk berhubungan dengan seseorang yang jauh, yang bahkan nyaris tak pernah kutemui. Sudah tigabelas pria. Tigabelas. Sejak aku mengenal arti cinta sesungguhnya, bukan cintanya monyet seperti yang selalu kaualami itu !” senyumnya lalu merekah diantara sendu tuturnya.

Kupandangi Letizia dengan senyum genitku. Aku menopang daguku dengan tangan kiriku. Gelasku kosong. Kulirik gelas milik Letizia. Tanganku iseng mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan.

“ lalu, apa sebenarnya yang sudah terjadi denganmu, Zia?” tanganku tetap usil.

Wow, tentu saja aku tahu sudah berapa pria yang membenamkan dirinya ke dalam alam cintamu, satusatu…pikirku sambil tersenyum dan menanti ucapan selanjutnya.

“ Ya, semua akan berakhir. Mungkin semua ini terlihat konyol. Aku menjalin hubungan jarak jauh sebenarnya hanya untuk menghindari yang namanya komitmen dalam pernikahan. Kau tahu, umur kita sudah tidak muda lagi. Tuntutan dari segala arah itu yang membuat aku merasa gagal dalam hidup…” wajahnya kembali tertekuk.

“mengapa bisa begitu, Zia..? kau salah, hidupmu berhasil…kaulihat, apa lagi yang kaucari, bukankah semua sudah kau dapat…. Memang sudah sepantasnya jika saat ini kau sudah benar-benar memikirkan pendamping….”

“ hahahaha…” tawanya kali ini membuatku mengernyitkan kening.

“ coba lihat dirimu,… kaupun sudah tua, tapi aku belum melihat kau dengan pasanganmu… atau jangan-jangan kau sudah ada pendamping tanpa memberitahu aku ?” selidiknya. Kali ini Letizia meraih gelasnya meski tetap belum diminum sedikitpun. Aku tersenyum.

“ Letizia yang cantik, kali ini topiknya bukan aku, tapi kamu….” Ujarku sedikit tenang. Geram juga dia berkata begitu. Ada sedikit malu di sini. Memang aku masih sendiri. Walau sudah silih berganti benih cinta tumbuh di hatiku. Dan aku sudah tua, Letizia benar, aku hanya lebih dari hitungan jari lahir ke dunia ini.

“ ya, aku merasa gagal…” lanjutnya.

“ tapi tidak kan. Baru merasa. Tapi kenapa rasa itu kamu ciptakan?”

“ Terlahir jadi wanita membuat aku menyesali hidup. Setidaknya saat-saat ini. Menjadi mandiri itu tujuanku, sukses dalam karir menikmati kepuasan seperti beberapa tahun terakhir ini. Tapi semua itu akan lenyap. Sebentar lagi… dan semua itu rasanya jadi tak ada artinya”

“ aku gagal…” lanjutnya dan Orange Juice itu habis seketika.

* * *

Lelaki ke tigabelas. Hanya dapat kulihat di benakku. Seperti apa rupanya masih kabur. Diandra, hanya nama itu yang lengket di ingatanku. Wanitaku yang cantik itu hanya bertemu lewat sebuah jejaring sosial. Bertatap hanya lewat webcam. Setidaknya itu yang ia ceritakan di sore yang mendung itu.

Diandra melamarnya. Jarak mereka memang jauh. Namun bermil-mil serasa hanya sesenti di depan. Bukan kali pertama ia dilamar dan bukan kali pertama juga kisah itu keluar masuk di kupingku. Kadang-kadang agak jengah juga. Klise. Cerita bahagia berakhir duka. Ya, aku hanya tempat sampah untuknya. Walaupun ingin sekali berbagi kisahku dengannya. Tapi cukuplah kupendam sendiri. Wanita cantik itu sudah cukup tertekan dengan semua yang ia alami. Letizia-ku malang.

Tentang Diandra, lelaki yang muncul saat Letizia-ku nyaris tak percaya lagi untuk membuka lembaran baru. Tidak ingin dicinta dan mencintai lagi…itu katakatanya yang selalu kukenang sejak pria yang kesepuluh mencampakannya demi wanita lain.Tapi tetap bergulir hingga sekarang ke tigabelas. Lagi-lagi kisah klise. Tak sedikitpun rona kebahagiaan kulihat di wajahnya saat cerita Diandra mengalir dari bibirnya. Hanya penyesalan. Entah kenapa. Bukankah itu sudah terjadi berkalikali. “Jatuh Cinta” lewat kata-kata yang terlontar lewat maya, bukan hal biasa bagi Letizia-ku. Akupun pernah mengalaminya. Tapi tak se-extreme ini.

Aku sedih mendengar bahwa sebentar lagi ia akan mengakhiri masa lajangnya. Meski aku tahu, bukan itu yang diinginkan wanita yang paling cantik yang kukenal ini. Pernah suatu hari ia berkata tak ada yang lebih nikmat selain kesendirian. Tapi entah kenapa sebenarnya ia tak bisa sendiri. Tak bisa berteman sepi. Selalu mencari celah untuk bergantung pada sesuatu yang ramai. Wanita cantik itu hanya butuh ditemani. Siapapun orang yang mau di sampingnya.

Malangnya Diandra. Kalau saja aku bisa berbicara dengan lelaki itu. Tapi aku tak tahu siapa dia. Letizia-ku tak boleh bersamanya. Hanya akan membuat ia semakin terpuruk. Sejak dikhianati Malam, cinta sejatinya dulu, ia berjanji untuk tidak jatuh cinta sepenuh kepada siapapun yang datang menghampirinya. Itu sebabnya ia memilih “berpacaran” dengan seseorang yang tidak dekat dengannya. Tidak dekat dalam segala hal. Terlebih jarak. Agar tak terlalu sakit. Atau menyakiti. Nyatanya tetap sakit.

Aku tak mau ada yang sakit. Tidak pada lelaki itu, juga pada Letizia-ku yang cantik dan selalu membuat aku bergetar setiap tatap matanya memandangku, dalam kondisi apapun, entah itu binar kebahagiaan akan kisahnya yang penuh sukacita atau justru pada saat air matanya mulai menetes karena dukalara yang ia pendam. Terlebih aku tidak mau menyakiti hatiku lagi.

Aku harus jujur pada Letizia-ku yang cantik. Aku akan bahagia jika Letizia-ku benar-benar menerima Diandra karena memang itu pendampingnya yang sepadan dan memang sesuai kehendakNya. Bukan karena terpaksa akan umur dan tuntutan dari keluarga besarnya yang memang menginginkan Letizia-ku mengakhiri masa lajangnya. Bukan. Bukan karena alasan apapun.

Ah aku memang tak bisa menerima alasan apapun. Aku tersiksa dengan semua ini. Seharusnya sudah kukatakan sejak dulu. Bahwa aku juga ingin menjadi bagian dari hidupnya. Bukan sebagai seseorang yang hanya menemani disaat Letizia-ku yang cantik sedang ingin berbagi saja. Aku ingin menjadi segalanya bagi Letizia-ku. Hanya itu.

Sejak sore itu, aku semakin tidak menentu. Ah… andai saja aku memiliki keberanian, sedikit saja. Sedikit. Bukannya mematung seperti hari ini. Suaranya yang baru saja kudengar seakan tak mau pergi. Selalu terngiang-ngiang.

Pertengahan bulan ini, Diandra datang. Untuk pertama kalinya. Aku akan bertemu dengan seorang lelaki yang akan menjadi suamiku…kau ikut yah, …menguatkan aku…

Masih sama. Tak ada aura bahagia dibalik suara lembutnya. Tapi aku tahu ada penyesalan di sana. Ah bodohnya aku. Andai kau tahu Letizia, aku takkan sanggup menguatkanmu. Aku akan gontai saat itu, layu seperti rumput yang kekeringan.

Perjalanan cintaku sesungguhnya seperti kisahnya. Silih berganti datang dan pergi. Meninggalkan luka yang seharusnya tak ada. Umur dan tuntutan itupun yang membuatku bergidik. Kadang-kadang asal comot sekedar membuat keluarga lega karena aku bergandeng. Tapi tak secerah hidup Letizia-ku. Tak seindah sinar fajar yang selalu ia banggakan itu, juga tak menarik seperti warna pelangi yang katanya jelmaan bidadari, salah satunya ia, yang nyasar di bumi. Tidak…tidak ada yang boleh mengintip kesedihanku. Tidak juga saat ini. Saat aku menyesali diriku yang bodoh. Yang tak bisa berbuat satupun.

Saat ini aku hanya ingin mendengarnya dari mulutnya sendiri bahwa semua itu hanya purapura. Bahwa takkan ada pernikahan dengan Diandra. Bawa semua ini hanya mimpi dan ketakutanku belaka. Aku memohon hari ini. Kesempatan untuk menjadi yang terakhir itu jatuh kepadaku.

Aku ingin berlari menemuinya, Letizia-ku yang cantik. Aku ingin membebaskan rasa yang selalu memenjarakan aku sejak bertahun-tahun lamanya aku mengenalnya. Aku tak sanggup lagi mengandangkan segala ucapan nuraniku.

Aku tahu takkan pantas bersanding dengannya. Wanita itu begitu cantik, Letizia-ku yang anggun. Aku mengaguminya. Segala kemandiriannya. Itu yang membangkitkan gairahku. Aku tidak butuh orang lain untuk menggali hasratku. Aku hanya butuh Letizia-ku. Dan tentu yang ia hanya butuh aku seutuhnya. Aku yang selalu ada untuknya. Mengapa ia tak pernah menyadarinya?. Aku bertumbuh dewasa bersamanya, namun ia terasa sangat jauh diatasku. Tidak… ia hanya sejauh lantunan doadoa malamku. Yang kupanjatkan pada Dia yang telah mempertemukan aku dengannya. Doa yang dari nafasku. Yang selalu terlayangkan hanya untuk Letizia-ku.

Aku telah berjanji pada malam, untuknya. Malam yang selalu dinanti bersama, bukan Malam, cinta sejatinya yang mencampakkan ia dahulu. Tapi malam yang bertabur doadoa dari nafas aku dan ia yang beradu di bawah bintangbintang gemerlap.Aku telah berjanji takkan lagi membuatnya melipat sedih dan menaruhnya di bawah bantal buluangsanya yang lembut biar kusulam pedihnya kuganti dengan sukacita. Aku takkan membiarkannya sendiri.. Aku akan selalu menjaganya. Berikan aku kesempatan untuk menepati janjiku. Hanya pada Letizia-ku yang cantik.

* * *
Senja semakin menjingga. Di sini, di pesisir ini kembali aku melepas semua rasa rinduku pada Letizia-ku. Aku memang manusia yang bodoh. Aku tak bisa mendampinginya menemui Diandra. Aku tak bisa menguatkannya. Siapa yang akan menguatkan aku.

Rinai ini mengingatkanku lagi akan Letizia-ku. Aku pernah bermandikan kesegaran rinai bersamanya di pesisir ini. Yang telah lama ialupakan. Mungkin memang tak sedikitpun ia ingat kisahkisah itu. Terlalu kecil… sekecil butir pasir yang ku genggam ini. Butir yang halus.

Semilir angin kuharap menghantarkan gumamku ini. Aku masih berharap menjadi pendampingnya yang ke empatbelas. Yang terakhir. Namun aku tahu itu takkan terjadi. Aku hanya bisa mencintainya. Akhirnya kuakui. Aku mencintainya. Hanya Letizia yang ingin kurengkuh saat ini dan selamanya. Namun kenyataan memang selalu kejam.

Aku terlahir sama sepertimu. Penuh kisah kasih akan kehidupan. Terlalu banyak cinta justru akan membuat aku semakin terluka. Janji yang sebenarnya juga pernah aku ikrarkan dulu di sini, di pesisir ini. Bahwa aku dan ia akan selalu bersama. Memang tak kusadari sejak saat itulah aku jatuh hati padanya. Sangat jatuh hati pada usia beliaku. Usia belia kita berdua.

Janji itu selalu ingin kutepati. Tapi lagilagi aku takkuasa. Tak semudah aku katakan I Love You pada mereka-mereka yang datang dan pergi. Tak semudah itu. Bahkan tak semudah ia katakan Yes I Do saat Diandra melamarnya untuk jadi mempelai yang cantik.

Aku memang bodoh. Mencintai wanita sepertinya. Terlalu tinggi aku berharap.

Matahari semakin bergulir. Kaki kecilku menyusuri pantai. Suara panggilan telepon genggamku yang sedari tadi berdering tak menghentikan langkahku. Debur ombak yang tenang senja ini membuatku nyaman. Saat ini pasti Letizia-ku sudah membaca suratku. Aku lega. Meski tak terucap dari bibirku, namun ia tahu isi hatiku selama ini.

Semua berakhir. Aku harus akhiri semua ini. Dingin air laut tak membuatku urung untuk beranjak semakin dalam, hanya diriku, tanpa membawa sedikitpun dari pinggir pantai. Hanya Aku dan cintaku untuk Letizia-ku. Sinar rembulan perlahan mulai mengganti matahari yang telah terbenam. Aku menikmati setitik itu. Hingga ke dasar… Aku lemah saat ini. Mengutuki diriku sendiri. Mengutuki cinta yang Dia anugerahkan padaku.

Debur ombak mengalahkan debar cintaku padanya.

* * *

Letizia menunggu kedatangan sahabatnya sejak dua jam yang lalu. Berkali-kali jam tangannya dengan sombong terus berputar, sepertinya lebih cepat. Diandra masih dalam perjalanan. Ini kali pertama mereka akan bertemu, sekaligus membicarakan masalah pernikahan seperti yang sudah mereka sepakati beberapa waktu yang lalu.

Telpon genggam Letizia tidak pernah berhenti beraktifitas. Dengan gelisah, Letizia mencoba terus menghubungi sahabatnya itu. Tidak mungkin berhasil…pikirnya. Dengan tergesa-gesa, Letizia membuka pintu rumahnya ketika bell berbunyi. Seorang pria berkulit putih berdiri membelakanginya.

“ Diandra?”

Pria itu membalikan badan, “ Mbak, ada titipan. Tolong tanda terimanya di sini”

Letizia menerima bungkusan yang diantar oleh jasa kurir dengan hati yang bertanya-tanya. Tidak ada nama pengirimnya. Setelah menandatangani dokumen, Letizia langsung masuk dan duduk di sofa biru kesayangannya.

Sebuah kotak. Masih dengan wajah bingung, Letizia membuka kotak yang terbungkus rapih itu. Kupu-kupu biru. Sebuah Liontin kupu-kupu dari batu Aquamarine. Letizia terpana. Ada sebuah surat di situ. Dengan perlahan diletakkan liontin itu di sisi kanannya. Tangannya meraih surat berwarna biru muda itu.


13 Oktober 2009

Dear Letizia

Kutahu sesaat lagi kau akan bahagia selamanya.
Aku takbisa menemanimu.
Aku masih harus membangunkan bulan untuk menghapus jejak hitam
Tapi aku selalu ingat janji kita, Letizia-ku
Senandung itu akan tetap kulantunkan

Aku yang mencintaimu
Sungguh aku mencintaimu seperti cinta sepasang kekasih yang bermadu

Sahabatmu

-D-

Dengan bergetar, Letizia segera meraih telpon genggamnya. Sekali lagi di sahabatnya itu di hubungi. Tetap tidak dijawab. Jemari Letizia mulai mengetikkan pesan singkat…

D-,qm dimn. Tlpnq tak dijwb sih. Sdh 100x q tlp. Q ud bc sratmu D. Please, stlh bc smsq tlg bls!. Tp sptna qm sibuk skl. D, qm bnr. Tak shrsna q mnjwb ya scptna sm Diandra. Q butuh qm, D-. Jjr, qpun cintai qm. Tp qt tak bs. Bnr2 mnyiksa. Q tau. Brsm qm q bs mnjd drq sndr. Hnya brsmmu. Tp D-, q & qm sm. God angry jk qt sling mncinta, D-. hnya dgn ke 13 ini, Q bs mbnuh cintaq pdmu, smula qpikir bgt. Tp ksmpatan itu sllu ada bkn… 13 bkn angka yg tpt utk mngakhri ptualangnq. Q mnuggu blsn dri qm, Deschia.

Letizia sabar menanti balasan dari sahabat tercintanya yang terbenam bersama matahari di sudut sana.

"sebAtas mEmORy" :'(

CmUA.n hanYa bisa mNJdi knaNGan yG Gx akn pRnh unTuk q luphaKAn. .
Aq diciNI gX Ad 1 dEtikpUn bisa unTuk mlupKAnMu. . :'(
gX Ada 1 dtik pUN. . :'(

MskipUn cmUA.n tlah hILAng. .
Dan cmUA It gx aKn pRNh bisa unTuk kmbli sPrti dlu agy. .

TpHy,,
Cinta Ini claLu ada nama mU DIdlam hati q. .
WlwpUn kmU DAch mlupaKAn q. .

Aq gx ada hnti"n mNLz. . MNLZ. . DaN Mnlz. .
MengGAmbAR. . MENgGAMbAr. . Dan mNGgambAr. .

Aq mNLz,, sbUah mMori di bukU DeaRy q. .
Aq mNlz sbUAh pUIsi" tNtangMu. . sbUAh crita pNDek dri awaL Aq mRAsaKAn cinTA It. .
TrnyTA Cmua it mMBwa kisah" yg mNYeDIhkan. .
Kisah" yG Membwt diri ini mNJdi ornG YG Pling bAhaGia. .
KarenamU. .

Aq jga mEngGAmbAr sbUAh pUIsi tegAk brSAmbung. .
Aq mNGgambAr.n dngN PraSAaN . .
Trkadang,, disaAt aq mENGgambAr.N. .
Air mta q jaTuh dan trcAmpUR DLAm sbUAh pUIsi tegAk brSAmbung. .
CmUA GMbAr pUIsi tegAk brSAmbung it claLu aq simpAn didAlam maP RAhasia q. .

Di saAt aq kngN kmu. .
ClaLu aq bca pUIsi" hURuf tegAk brSAMbung q. .
Dan tUlisan tULIsaN CRita tntgmU DAn aq. .
Trnya,, iT CMua udaCH Cukup mBwt q bAhaGia. .
WlwpUn hanYa bisa mBaCa cmUA ItU :'(

TrlaLu bnyX MemOri it jika q ingAt. . :'(

Aph kmu tW ??
1-8-10 jam 18.15
ckrG Aq naNGis mmikirkaNmU. . T_T
sdiH RAsa.N BRpisah dngNmu. .
IngIn sx rSA.n brtmU DNGnMu. .
IngIn sx rSA.n q pUtar cmUA mMori it. .
IngIn sx. . :'(

gx aDA saTu pUN ORAng Yg bisa mNGganTIkanMu. .
Cuma kmU STu"n oraNG YG Mmbwt aQ TRsnyUm. .
Cuma kmu stU" orang yG Mmbwt pRAsaAn ini mNjdi tnaNG DAn bAHAgIa. .
Aq sangAt" mRIndUKAnMu. .
HanyA Ada stetES AIr mta yG q raSAkan. .

SmOGa aPh yg q rSAkan. .
KmU Jg mRaskan.n. .

Sring sx aq mMImpikanMu. .
Q gx tw,, aph pRAsaAn q ckrG Ini. .
YG JlaS,, DIdalam lubuk hti ini yg pling dlam rSA SYAnk ini gx aKN Prnh hILAng. .
ClaLu trukir nuM Mu di pikiran q. .

Cip:
ocTA Cutez gIrl'hairband

_kaTA" Q DIsaAt khaW JAuh_ :'(

CintaMu aKAn tTAp tingGAl brSAma q. .
HINGga akhIr hayaT Q & stlaH KMAtian. .
HIngGA TANGan tUHAn mNYatUKan qta kmbAli. .
BtapaPUn hti tlaH TRpikaT. .
Pda soSok traNG DLAm kgElapan,, yG Tlah mNGhIdupKAn sinar q. .
NamUn tak dpaT Mnyinari & mNGhangaTKAn pRAsaAn q sSungGuh.N. .

TrSENyumlaH SAaT KHw mNGingAtkan q. .
Krn saAt itU AQ MrindUKAnMu. .
Dan mNANGislaH SAat khw mrindUKAn q. .
Krn saAt itU Q TAk brada disaMPingMu. .

SaAt aq mMejamkan mAta q. .
Aq akan traSA DdkaTMu. .
Krn aq tlaH Ada diHAtimU clama.n. .

MaTA INDAh yg dlu ada,,
kini smUA.n traSA KOsoNG Tnpa keindahanMu. .

HAti,cinta dan rindU Q AdalaH MIlikmU. .
BAgaimana mUNGkin aq trbAng mNCari cnTA YG LAin. .
SaAt sayaP" Q TLAh ptaH KRNAmu ??

Aq tak pRNAh bisa,,
mNEmukan cinta yG LAin,, slain cnTAmu. .
Krn mRka tak trtandinGi oleh soSOk dirimU Dlam jiwa q. .
Khw takKAn pRNh trganTI. .
BAgai pecAhan mNGgekalKAn,,
kesunyiaN,KSEndirian & kseDIhan. .

Kini,,

q tlaH KHilanganMu :'(

''rindu ini melebihi yang aq tulis sekarang ini'' ;'(

Langkahku terhenti saat hati mulai mencair karena rindu… Tataplah mentari, karena hari ini semuanya harus kita akhiri Genggamlah jariku, karena mungkin kita tak mungkin kembali ke masa-masa ini… Peluk tubuhku ini, karena sungguh… aku ingin..
Pertama ku sentuh warnamu, saat hati ini gersang, penuh dengan debu…. Sperti Oase yg bangkitkan hasrat untuk berbagi angan.. kamu hadir bawakan aku Cinta.. Kamu buat aku tertunduk, merenung, dan menatap jauh ke dalam mata indahmu Sungguh.., aku telah tenggelam dan hanyut dalam lautan cinta terlarang ini..
Saat kututup mataku, terbersit keinginan untuk bawa kamu jauh kedalam kehidupanku Saat kuyakinkan hati ini bahwa kamu mampu bertahan dengan semua keadaanku saat ini Selalu ada sesuatu yang memaksa aku berfikir kembali untuk melangkah lebih jauh Sampai di Titik ini, aku harus menjawab… mengapa hatiku sering bimbang
Jujur…. dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam.. aku katakan… Aku sayang kamu…… Aku cinta Kamu… Aku akan selalu rindu padamu….. Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada padamu Hingga buatlah kamu benci padaku karena perasaanku ini…
12 Des 08, kita putuskan untuk arungi lautan yg penuh gelombang ini bersama-sama Berbekal hati yg terluka, coba abaikan sakitnya, penuh harap, gantungkan angan diangkasa… Walau hampir basah pipi ini dengan air mata tak percaya… Getir…. Saat kau ucapkan setiap kata yang terbungkus cerita tentang kamu dengan dia…
Tapi sudahlah, aku bisa terima semua itu… dan berharap, tak ada lagi cerita yg keluar dari bibirmu tentang masa lalumu itu, karena aku masih ingat jelas rasa sakitnya…
Sejak saat itu, hariku tak lagi membosankan… Sejak saat itu, ada wajah dan warnamu dalam setiap ruang di hati dan fikiranku Ada senyummu, pandanganmu dan suaramu di sela-sela aku menghela nafas… Sungguh, kamu begitu memberi arti di dalam kisah hidupku
Sampai kusadari, aku bukanlah orang yang kau cari… Aku bukanlah pangeran dalam mimpimu… Aku bukanlah pembawa bahagian di masadepanmu, Aku hanya seorang pemimpi, yg dapat halangi kamu untuk temukan belahan hatimu yang lain..
Aku tak bisa menjadi tanpa batas dimatamu… Akupun Kadang tak bisa selalu ada disisimu saat kamu butuh aku.. Aku tak bisa janjikan waktu-waktu indah untuk kamu, Aku sadar benar, semua ini menyiksamu… aku dan kenangan-kenangan kita
Bila kita tak mungkin lagi bersatu,… Sungguh…. Aku akan tetap berusah selalu ada untuk kamu, Walau tak mungkin lagi hatimu utuh untukku..
Semoga kamu temukan cinta sejatimu, tanpa batas… hingga dunia tau…. Sesungguhnya ada ruang di dalam mata indahmu.. Ruang yang hanya pantas diisi dengan cinta tulus dengan hati… Aku Cinta Padamu…
Terima kasih, untuk semua sayang dan cintamu.. yg membuat aku akan sangat kehilanganmu.. Jangan lupakan aku.. sungguh, kisah ini jadi penggalan manis dalam hidupku, Walau “kita cukup sampai disini….” Mungkin, Sampai aku kembali lagi…
Mungkin…

''sebatas memori lalu :'("

Meski hanya sedikit kenangan yang kumiliki tentangmu,
Tapi…..
Kenangan itu sangat berarti buatku..
Namamu t’lah terukir indah dalam hatiku..
Meski begitu jauh jarak dan waktu memisahkan kita
aku tak kan pernah mengingkari kenangan itu..
Kalo kau pernah menjadi orang terpenting dihatiku..
Suatu saat kalo kita bertemu kembali
Akankah aku ingat akan semua kenangan indah yang telah kau beri?
Atau akankah aku hanya tersenyum padamu
Dan berterima kasih tuk semua kenangan itu?
Aku sendiri tak tahu..
Biarlah waktu yang menjawab semuanya..

TERAKHIR KALINYA

TERAKHIR KALINYA
seucap kata membuat hati terluka satu pilihan yg berujung kekecewaan suatu keputusan yang dipikir secara logika mengakibatkan kehancuran bergejolak permasalahan andai saja kubisa, andai saja ku sanggup andai saja kudapat berucap akan ku peluk kau yang erat tuk terakhir kalinya tapi sayang, ku tak sanggup tuk melihat langsung itu semua dan ku hanya dapat berucap “maaf, maafkan aku, i cant love u forever, im sorry, good bye.. slamat jalan, tak ada lagi kata yang merasuki fikirku tapi kekecewaan karna tak bisa memberikan suatu pilihan pasti yg akan membawamu bangun dari tidur tak berdaya

seucap kata beriring nada seiris luka pasti membuat orang terluka ucapku jujur.. seribu kata tak berbahasa ku dsini ingin membuatmu tuk percaya ingin meyakinkan bahwa ku bnr2 sayang n cinta kamu tapi sayang luka itu membuatku lemah tak berdaya ucap kata dari bibirmu seakan panah menusuk di jantungku berhentikan denyut nadi di tanganku bila jujur tuk percaya apapun bisa bermakna tapi ku percaya kalau jujur tidak slalu dianggap jujur
========================================

kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.

Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu? Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya? Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain? Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang